Undefine

Entah apa yang mendorong saya untuk menulis pengalaman "sangat pribadi" kali ini. Entah karena suatu saat saya akan lupa dan ingin membaca kembali, atau justru saya ingin ini dikenang. Rasanya, seperti Anak Baru Gede saja. Sedikit intro, alhamdulillah saya menginjak awal semester VII/7. 30 Agustus 2016, selepas mata kuliah Penyutradaraan. Tidak ada firasat akan jatuh dari langit atau bahkan tiba-tiba saya bisa terbang.

Saya selaku perempuan ingin memiliki cerita hidup yang biasanya para wanita idamkan. Ya, memiliki teman hidup yang perhatian, mau mengkoreksi kesalahannya sekecil apapun, tidak sungkan untuk meminta maaf walau terkadang kami yang berbuat kesalahan. Akui saja, setiap perempuan memang seperti itu. Anggaplah saya telah menemukan teman yang tepat, yang sudah saya simpan dan jaga selama hampir 4 tahun belakangan ini. Kami hanya berbeda usia 1 tahun, dia lebih tua. Merupakan sebuah kebetulan jika kami berada di sebuah Sekolah Menengah yang sama, dengan Jurusan yang sama. Bahkan, tidak direncanakan, kami berada pada Perguruan Tinggi yang sama dengan program studi yang sama pula. Biasanya, setelah menemukan banyak persamaan, banyak orang berpendapat bahwa ini akan cocok. Tidak seperti yang diharapkan.

Kesalahan-kesalahan kecil selama kami berbarengan terus berdatangan, hingga menjadi suatu kebiasaan yang saat ini tak dapat ditoleransi lagi. Entah itu kesalahan saya atau dia. Tidak selamanya manusia bisa memaklumi kesalahan yang sebenarnya bisa diperbaiki dengan cepat. Mungkin karena sudah terlalu nyaman dan sedikit menganggap sepele yang menjadi penyebab utamanya. Entah kenapa, saya rasa ini benar-benar keterlaluan. Jika ada diantara kalian yang membaca, dan tidak sependapat, itu hal biasa. Karena tidak semua orang memiliki jalan pemikiran dan perasaan yang sama.

Entah apa yang selalu dia pikirkan, saya tidak tahu pasti. Dia selalu saja berusaha sendiri. Saya pikir ini bagus, artinya dia tidak ingin merepotkan orang lain. Tapi, sisi buruknya, sya jadi tidak mengerti bagaimana harus bersikap kepada dia. Untuk bicara pun, saya rasa, kata-kata saya tidak pernah sampai. Atau bahkan, bentuk perhatian yang sengaja saya lebihkan, tidak ada yang menyentuhnya. Ini seperti terbalik, apakah saya sekarang adalah seorang laki-laki dan dia yang menjadi perempuannya? Atau dia sebenarnya tidak membutuhkan perhatian itu? Saya tidak tahu, dia tidak pernah bicara dengan jelas.

Pernah suatu hari, dia menghilang 2 minggu lamanya. Naluri seorang perempuan pasti merasa gelisah. Tidak ada pesan. Saya kelimpungan. Saya hubungi temannya, keluarganya, memantau media sosialnya. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Mungkin kalian pikir saya memiliki prasangka negatif, tapi akui saja jika kalian pun pernah merasa seperti itu dan berusaha percaya. Tapi, saya tidak biasa.
 Saat saya kecil, saya diajarkan untuk selalu berkomunikasi dalam keadaan apapun. Jika tidak memungkinkan, setidaknya memberitahukan sebelumnya. Itu juga yang saya terapkan dalam kehidupan saya, tidak dengan dia saja, tetapi dengan teman-teman saya juga. Dia benar-benar hilang dan tiba-tiba saja muncul dihadapan saya. Saya bisa memaafkan, namun saya tidak akan bisa melupakan.


Saya memang pendendam, saya sangat berusaha untuk tidak pernah melakukan kesalahan yang membuat dia khawatir, sekalipun saya hanya pergi kuliah, saya pasti memberitahu, bahkan saya memberitahu jadwal perkuliahan saya beserta kegiatan lainnya agar dia tidak risau.



Baiklah, ini puncaknya. Saya tidak bisa menahan lagi. Disaat oranglain menganggapnya biasa saja, bagi saya ini persoalan serius, masalah kebiasaan dan menghargai oranglain.

Saya mengunggu selama hampir 4 tahun ini untuk REVISI dari TUGAS yang harus DISELESAIKAN.

*terkadang saya menyesal, mengapa dulu saya memakan umpan yang membuat saya kenyang lebih cepat, mengapa saya selalu berada di waktu yang salah, dan kapan saya menemukan orang yang tepat?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bangkit Dari Kasur! Apa Kabar?

Menuju UAS, Menuju Libur Panjang!